Beranda Kabar HuKrim Lembaga BPR RI Sorot Aktivitas “PETI” Di Kabupaten Melawi Yang Masih Terus...

Lembaga BPR RI Sorot Aktivitas “PETI” Di Kabupaten Melawi Yang Masih Terus Berjalan

12158


Melawi.Radarinvestigasi.id-Komitmen Aparat Penegak Hukum terutama Aparat Pihak Kepolisian dalam menuntaskan aktivitas Penambang Emas Tanpa Izin masih dipertanyakan, hal berdasarkan pantauan wartawan media kami di beberapa titik, yakni di Desa Labang dan Desa Tanjung Pao tepatnya di Kecamatan Nanga Pino terlihat masih ada aktivitas “PETI”, hal ini rupanya sudah menyilaukan mata bagi para penambang illegal, seolah sudah tidak lagi peduli dengan apapun yang ada di sekeliling baik itu alam sekitar, eko sistem air dan darat serta dampak yang di timbulkan akibat bahayanya limbah mercuri yang tidak secara langsung di rasakan oleh masyarakat sekitar.

Potensi Tambang Emas di Kabupaten Melawi sangat besar dan tersebar di beberapa Desa, seperti Desa Labang dan Desa Tanjung Pao, menurut pantauan sejumlah awak media dilapangan ratusan unit mesin tersebar di beberapa tempat di Kecamatan Nangah Pinoh khususnya di Desa Tanjung Pao dan Desa Kelakik begitu juga di Desa Labang. Ratusan lantig jek emas sampai sekarang masi lancar beroperasi seakan akan tidak perna tersentuh hukum.

Hasil investigasi media dan sejumlah LSM ini di beberapa Desa di Melawi sebagai “penghasil emas di dapati data dan fakta dilapangan yang sangat mencengangkan, Itu semua bukan tanpa alasan, diduga kuat ada “permainan olek Oknum” dibelakang layar. Seperti keterangan yang di peroleh dari beberapa sumber yang enggan di sebut namanya di Desa Tanjung Pao mengatakan bahwa dirinya telah lama menjalankan “usaha ilegal” ini dan sudah mencapai hampir sepuluh tahun.

Selama ini saya hidup dari dompeng bang, khususnya di Desa Tanjung Pao yang penting bayar uang tancap, dulu sih 5 juta naik 10 juta dan naik lagi 15 juta, dan sekarang naik lagi sampai 25 juta kepada pemilik tanah yang berinisial HR, kebetulan sekarang sebagai wakil DPRD salah satu partai di Kab. Melawi, setoran kita lancar, kan kita usaha juga pinginnya tenang dan aman, uang setoran biasanya diambil mingguan sebanyak 250 / minggu atau bulanan tergantung kesepakatan yang dikumpulkan kepada seseorang yang “dipercaya” dan katanya dibagi bagi untuk uang keamanan”.

Dan keterangan seperti itu juga hampir sama seperti di Desa Labang. berbeda tempat dan wilayah dan tentunya lain orang, dan peruntukanya pun sama dengan bahasa “keamanan”, lalu siapa yang di sebut sebut sebagai keamanan dalam bidang per “PETl” an ini ??? Ini menjadi pertanyaan besar bagi kita, siapa di balik ini…?

Inilah fenomena yang bisa menjadi buah simalakama, disisi lain urusan perut disatu sisi ini harus ada ketegasan pemerintah daerah serta aparat penegak Hukum, supaya lingkungan hidup dan manusia terselamatkan, karena ini aset alam yang dimiliki Kab. Melawi.

Ditempat terpisah tim investigasi dari lembaga BPRI Badan Pusat Reclassering Chandra Makkawaru, S.Pd., SH.MH mengharap kan adanya ketegasan dari pihak penegak hukum untuk menindak pelaku “PETI” yang ada di Kab. Melawi terutama di Desa Labang dan Desa Tanjung Pao. Perlu diketahui untuk saat ini “PETI” yang sedang marak terdapat di desa Tanjung Pao dan Desa labang.

“Kami sebagai Lembaga Sosial Control begitu prihatin dengan Kondisi Lingkungan yang tercemari akibat Aktivitas “PETI” ini, kita sangat mengharapkan adanya ketegasan dari pihak Aparat Penegak Hukum baik itu Kepolisian maupun dari pihak Dinas Lingkungan Hidup (DLH) agar dapat membrantas aktivitas “PETI” yang ada di Kabupaten Melawi tanpa tebang pilih, kami akan terus memantau perkembangan kegiatan “PETI” tersebut, sampai betul-betul ada keseriusan dari Aparat Penegak Hukum baik dari pihak Kepolisian maupun pihak Dinas terkait,” tutupnya.
(Tim)

redaksi
Author: redaksi