oleh

Inilah Perjalanan Spritual Pangkalima Ampit Pembina Ormas Perpedayak PLB

-Pulang Pisau-162x dibaca
  1. Pulang Pisau – Radar Investigasi – Mungkin dikalangan masyarakat Kalimantan Tengah (Kalteng) khususnya di Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) Perkumpulan Pemuda Dayak (Perpedayak), Pasukan Lawung Bahandang (PLB), nama Pangkalima Ampit (PA) tidak asing lagi.

Dirinya PA merupakan dewan Pembina Pusat Perpedayak PLB yang bergabung sejak tahun 2018. Untuk saat ini pasukan dibawah binaannya berkisar Puluhan Ribu Lebih orang.

Saat Tim Radar Investigasi Wawancarai di tempat tinggalnya, Desa Bukit Rawi, Kecamatan Kahayan Tengah, Kabupaten Pulang Pisau, Provinsi Kalteng, dikatakannya bahwa sebelum dirinya tergabung di Perpedayak PLB, dirinya juga pernah tergabung di Organisasi Kemasyarakatan seperti Batamat dan Komonitas Borneo di Banjarmasin THN 2016.

Adapun perjalan Spritualnya, dia sebutkan juga, pada awalnya dirinya meditasi/Semedi di Lewu Saka bukit rawi (tempat yang di keramatkan suku Dayak daerah setempat), Makam dato Sanggul di Banjar Masin, Kalimantan Selatan, di bukit Tangkiling, di bukit batu dan Pulau Malan Katingan.

“ Manfaat Meditasi di Tempat yang pernah saya singgahi agar bisa menyatu dengan alam (bersahabat dengan alam) dan mendapatkan ketenangan jiwa ” ujarnya, Minggu (9/1/2022).

Lanjut PA menyampaikan, Adapun bergabungnya dirinya dalam Organisasi Kemasyarakatan Perpedayak PLB tidak lain untuk melestarikan adat dan budaya Nusantara, khusunya pada masing – masing daerah dipulau Kalimantan.

“ Perpedayak PLB sendiri tidak membedakan Suku Ras Dan Agama karena sesuai bingkai NKRI ” tegasnya.

PA berpesan agar Janganlah melupakan budaya nenek moyang kita terdahulu, seperti bahasa, tari – tarian pada masing – masing derah serta budaya ritual yang melekat pada nenek moyang terdahulu itu sendiri.

“ Semboyan kami, Sulidaritas tidak memilih dan memilah, Duduk sama rata, berdiri tanpa raja, tiada maju dalam kesalahan, tiada mundur dalam kebenaran, tetap rendah hati, tersenyum dan jangan sombong ” imbuhnya.

Pada akhir pesannya , PA mengartikan arti namanya ‘AMPIT’ yakni Ampah Sampit.

“ Kakek dan nenek berasal dari Ampah, sedangkan ibunya kelahiran Sampit ” tukasnya.