Beranda Bali Pariwisata Ditutup, Kerugian Bali Menyentuh Rp. 9,7 Triliyun

Pariwisata Ditutup, Kerugian Bali Menyentuh Rp. 9,7 Triliyun

17
Image : Net

Denpasar – Radar Investigasi | sebagai barometer Indonesia sebelumnya sempat menargetkan kunjungan wisatawan mencapai hingga 7 juta pada 2020. Akibat pandemi, Bali mengalami kerugian mencapai hingga Rp9,7 triliun akibat dampak penutupan pariwisata. Walau begitu, Bali harus tetap melakukan promosi melalui digitalisasi untuk pariwisata ke depan.

Hal ini disampaikan Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati (Cok Ace) saat didaulat sebagai narasumber dalam program SESPIBI (Sekolah Pimpinan Tinggi Bank Indonesia), Jumat (4/9/2020).

Wagub Cok Ace menyatakan, pandemi covid-19 ini mengajarkan agar semua pihak khususnya pelaku wisata mulai melakukan pembenahan terutama dalam menjaring klaster wisatawan yang bertujuan mendapatkan atau meningkatkan kualitas pariwisata. Pariwisata ke depan tidak hanya memberikan pertumbuhan ekonomi spesifik terhadap para pelaku dan pengusaha saja, melainkan pariwisata yang berkualitas diharapkan mampu memberikan manfaat bagi kesejahteraan dan kualitas hidup bagi masyarakat Bali secara menyeluruh.

Indonesia sampai saat ini belum membuka destinasi pariwisata akibat semakin banyaknya kasus positif covid-19 setiap harinya, Bali yang memiliki sekitar 354 destinasi terus mencoba melakukan pembenahan termasuk wajib menyiapkan sarana protokol kesehatan bagi pemilik usaha. Pandemi covid-19 meluluhlantakan perekonomian Bali selama hampir 6 bulan belakangan, sehingga pertumbuhan ekonomi Bali berada paling bawah di Indonesia mencapai 10,98 minus kontraksi terdalam d Indonesia pada triwulan pertama adalah 1,14%.

Dalam penanganan covid-19 pemerintah daerah secara serius melakukan sejumlah upaya untuk kembali dapat memulihkan perekonomian bali, segala sesuatu diharapkan dapat dibantu dan didukung oleh masyarakat luasnya. Karena membina akomodasi di saat pandemi padat karya dan padat modal itu sangat dibutuhkan, sehingga persoalan yang kita hadapi adalah tentang sumber daya manusia (SDM) dan modal yang tertanam.

Untuk menggerakkan dunia pariwisata di tengah krisis akibat pandemi covid-19 terdapat tiga hal yang mutlak dimiliki yakni modal (modal sendiri atau modal yang bersumber dari pinjaman) yang digunakan sebagai objek untuk memutar roda penjualan dan perekonomian, bisnis plan (mimpi atau harapan) dalam membangun relasi sehingga dapat bertahan di masa pandemi, dan cash flow adalah ketersediaan tetesan keuntungan dari modal dan usaha yang sedang dijalani.

Sebagai pemerintah yang memiliki tanggung jawab kesejahteraan warganya terus mengupayakan penyaluran bantuan selama wabah berlangsung. Hal ini untuk menangani kebutuhan pangan sehari-hari karena sebanyak 4.000 sumber daya manusia sedang mengalami dampak dari keterpurukan akibat ditutupnya pariwisata. Berkaitan dengan banyaknya sumber daya manusia khususnya pelaku dan pekerja pariwisata yang dirumahkan, ke depannya perlu dibuatkan kebijakan lebih lanjut agar usaha ini tatkala dibuka kembali, dapat kembali di putar dan bergerak kembali.

“Sebaiknya semua pihak baik pemerintah dan pelaku usaha mulai mempertimbangkan cara ke depan agar tidak hanya bertumpu pada satu bidang, yakni pariwisata saja. Triwulan ketiga tidak ada kanal keuangan lagi, pemerintah hanya mengandalkan APBD dan APBN, sehingga menyebabkan uang yang beredar sangat kecil dan daya beli masyarakat sangat tinggi. Ketergantungan pada pariwisata menyebabkan sama saja menarik kereta pedati dengan satu kuda sehingga perlu dipikirkan bagaimana kita menyiapkan kuda kuda lain untuk kedepan, ibarat kereta, saat ini kita sedang terseok-seok karena ditarik satu ekor kuda saja, dan perlu dipertimbangkan tentang penambahan kuda pada masa yang akan datang terutama pasca pandemi Covid-19 ini,” ungkap Wagub Cok. Ace.

Sejak awal Konsentrasi perekonomian di Bali memang bertumpu pada pariwisata, sehingga perkembangan pariwisata di Bali, sesungguhnya sudah mulai dibangun sejak 1930 silam, sehingga satu hal yang sangat mendasar adalah ketertarikan pada budaya Bali. Bali yang belum mengenal media promosi saat itu hanya mengandalkan promosi dari mulut ke mulut, sehingga perkembangan pariwisata pada 1970-an menjadi tonggak lonjakan pariwisata paling tinggi yang merupakan sebuah peradaban dan pengalaman yang kemudian dikembangkan untuk menuju Bali yang berkualitas. Pariwisata sebagai sebuah pengalaman sehingga perlu dilakukan pengembangan budaya yang tidak ditemukan di daerah lain. ( net )

redaksi
Author: redaksi