Beranda NTB Lombok Kekerasan Pers hariannusa.com, Kadus : Fitri di tendang bukan di pukul…

Kekerasan Pers hariannusa.com, Kadus : Fitri di tendang bukan di pukul…

90
0
Image : Net

Lombok Barat.Radarinvestigasi.id | Kasus pemukulan wartawan hariannusa.com Diketahui Bernama Fitri sempat tak terpecahkan sebab belum adanya saksi, akibat hal tersebut pihak Kepolisian Polresta Kota Mataram sempat menolak laporan saudara Fitri dengan alasan tidak ada saksi, namun, keesokan harinya Kamis 24 September 2020 petugas dari Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (Unit PPA) Polresta Matram mendatangi lokasi tempat kejadian untuk mendalami motif dan mengusut kasus pemukulan terhadap seorang wartawan dari salah satu media Online tersebut. (26/09/2020)


Kedatangan Unit PPA Polresta Mataram ke lokasi diketahui pihak pemerintahan Desa Duman dalam hal ini Kepala dusun (Kadus), Duman Indah, Hendri, menjelaskan bahwa tadi ada petugas Unit PPA Polresta Mataram yang datang ke lokasi untuk melakukan olah TKP dan merekonstruksi kejadian

“namun saksi pada saat terjadi pemukulan terhadap saudari Fitri di lokasi tidak ada orang yang melihat”

jelas Hendri Di kantor Desa Duman, Kabupaten Lombok Barat.


Menurutnya dengan ketidakadaan saksi terhadap pemukulan Fitri dikarenakan pada saat kejadian tidak ada orang yang melihat fitri dipukul secara langsung, masyarakat ramai setelah terjadi percekcokkan di lokasi kejadian

namun yang melihat langsung mbak Fitri di pukul oleh pelaku tidak ada yang melihat, saya pun datang setelah masyarakat ramai disana

jelasnya.


Akibat hal tersebut Unit PPA dari akan memanggil kedua belah pihak ke Polresta Mataram guna meminta keterangan lebih lanjut, pihak PPA akan memanggil kedua belah pihak ke Polresta Mataram besok (red. Senin, 28/09/2020)
Hendri membenarkan bahwa telah terjadi pemukulan terhadap Fitri,

” Fitri di tendang bukan di pukul, berdasarkan pengakuan dari pelaku” jelasnya.


Ditempat berbeda, Kepala Desa (Kades) Duman, mengatakan kasus yang menimpa Fitri bukan sebuah pengeroyokan namun pemukulan oleh satu orang pelaku saja,

“saya sangat menyayangkan pemberitaan beberapa waktu lalu yang mengatakan bahwa saudari Fitri dikeroyok, itu sangat tidak benar kalau di pukul oleh satu orang iya itu benar” jelas Kepala Desa Duman Suhardi dikantornya, Kamis (24/09).


Dia juga membenarkan adanya kejadian pemukulan tersebut di Desa Duman, pemukulan itu memang benar terjadi

“kami dari aparat Pemerintah Desa tidak pernah menutup-nutupi perihal kejadian yang menimpa mbak Fitri tersebut”tegasnya.


Pihaknya sempat mau melakukan mediasi lanjutan namun Fitri lebih dahulu sudah memasukkan laporan kepihak yang berwajib, berdasarkan hal itu pihaknya belum melakukan tidakan lagi,

“namun kami akan terus berusaha untuk memediasi mereka agar permaslahan ini tidak sampai keranah hukum”harapnya.


Mengenani kerugian yang di alami Fitri, Kades akan mencarikan solusi ketika proses mediasi berhasil dilakukan, mengenai kerugian yang menimpa fitri

“kita akan berkordinasi dengan pihak pelaku dan meminta untuk bertanggung jawab atas kerugiannya kepada pihak pelaku, yang penting semuanya kembali aman seperti biasa, tandasnya.


Saat ini pihak Kepolisian sudah mulai mendalami kasus yang menimpa wartawati hariannusa.com tersebut, berdasarkan Informasi Dari Fitri, Polisi Sudah memanggil beberapa Saksi.

Seperti Yang Di Lansir Di media Daring, radarmandalika.id asal Mula Kejadian dalam Rilisanya, Fitriani dipukul oleh pelaku inisial Y. Dia dipukul setelah baru sampai rumahnya bersama suami dari Kuripan sekitar pukul 20.20 wita. Fitri tinggal di sebuah rumah BTN di Desa Duman, Kecamatan Lingsar Kabupaten Lombok Barat.

“Saya pulang sama suami dari Kuripan sampai di rumah BTN sekitar pukul 20.20 wita. Baru standar motor pelaku Y  memukul dan menendang suami saya sampai tersungkur. Melihat suami saya jatuh, spontan saya hadang pelaku mau mukul lagi. Lalu saya ditendang dan perut saya diinjak,” cerita Fitri kepada Radar Mandalika, tadi malam.

Fitri sendiri belum mengetahui motif pelaku yang tiba-tiba melakukan kekerasan kepada dirinya dan suaminya, H Awaludin. Termasuk apakah pelaku menyimpan dendam pribadi atau tidak.

“Awalnya dia datang sendiri terus datang semua anggota keluarganya,” katanya.

Fitri juga mengatakan, dia sendiri tidak mengenal persis pelaku sebab jarang ketemu. Namun ia tidak memungkiri kalau dirinya pernah bertemu pelaku selama dua kali.

Seingat Fitri, dirinya dan suaminya tidak ada masalah apa-apa dengan pelaku sebelummya. Tapi paginya Fitri dan ibu pelaku sempat terjadi cekcok sekitar pukul  09.00 wita, pelaku tiba-tiba menghampiri mereka Fitri yang hanya berbatasan rumah satu tembok. Kata ibu pelaku, dirinya tidak suka sama Fitri. Ibu pelaku datang menggedor pagar sambil teriak teriak menyuruh Fitri keluar. Suaminya Fitri duluan keluar baru Fitri sendiri.

 “Pas ditanya sama suami saya kenapa tidak suka dia jawab, pokoknya nggak suka dah, gitu aja,” kata Fitri menceritakan.

Ditanya pelaku mengaku wartawan? Fitri menjelaskan yang mengaku wartawan kakaknya Y, yang datang saat itu namun tidak menyebutkan dari media mana.

“Dia cuman ngaku wartawan aja. Dia pernah diajari pelatihan jurnalis oleh Hari. Tapi bukan wartawan hanya ngaku wartawan saja,” sebut perempuan yang juga sebagai anggota Bidang Pengembangan Usaha Media Online Indonesia (MOI) Wilayah NTB itu.

Dari kekerasan yang dilakukan, Fitri akhirnya menempuh jalur hukum. Bersama suaminya, Fitri mengaku langsung mendatangi kantor Polresta Mataram tepatnya di Unit Pelindungan Perempuan dan Anak (PPA) untuk mengadukan kejadian tersebut. Aduannya, lanjut Fitri langsung diterima.

Fitri juga bercerita, akibat insiden tersebut Fitri merasakan sakit di sekitar perut dan pinggang, sebelah kiri dan ia juga merasa trauma dan ketakutan pulang ke rumahnya. Selain mengadu, Fitri juga meminta perlindungan diri kepada kepolisian. Dia khawatir nanti terjadi apa-apa terlebih rumahnya masih berbatasan satu tembok.

“Kalau bisa minta pengamanan polisi. Soalnya saya was-was,” kata dia.

Sementara Itu, aliansi Jurnalis Independen (AJI) mataram Mendengar Peristiwa Tersebut sangat Menyayangkan, Seperti Di kutip dari Media radarmandalika.id, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Mataram sangat menyesalkan tindakan kekerasan yang dilakukan oknum Y kepada wartawan hariannusa.com, Fitriani yang terjadi Selasa (22/09) malam di rumahnya di desa Duman Lingsar, Lombok Barat. Terlebih korban kekerasan itu dialami pewarta perempuan.

“Tentu kami sangat menyesalkan tindakan kekerasan, apalagi dia seorang perempuan,” sesal Ketua AJI Mataram, Sirtupillaili kepada koran ini.

Apapun alasannya kekerasan tidak sepantasnya terjadi, sangat tidak terpuji dialam negara yang menganut asas hukum. Meski AJI sendiri belum mendapatkan laporan terkait kronologi dan modus kasusnya, termasuk apakah itu terkait karya jurnalistik atau tidak.

“Dengan alasan apa pun tindakan kekerasan tidak boleh dilakukan,” tegasnya.

AJI sangat prihatin atas kondisi kekerasan yang dialami insan pers. Jika itu terkait karya jurnalistik tentu ini menjadi ancaman kebebasan terhadap pers. Hendaknya jika ada orang yang keberatan dengan karya jurnalistik menempuh cara-cara yang benar sesuai prosedur yang diatur Undang-undang Nomor 40 Tahun 1999 tantang Pers.

“Tapi jika bukan karena karya jurnalistik, kita percayakan sepenuhnya kepada Aparat Penegak Hukum (APH),” katanya.

Data yang dimiliki AJI tindakan kekerasan terhadap insan pers masih terbilang tinggi. Terakhir yang aduan yang masuk ke AJI yaitu Intimidasi yang dialami wartawan online radarmandalika.Id, Muh Arif.

Dari tahun 2006 hingga 2020 angka kekerasan secara nasional mencapai 789 kasus. Termasuk didalamnya data dari NTB bahkan yang masuk data terakhir yaitu kekerasan yang dialami Muh Arif wartawan Radar Mandalika online.

“Dari data itu kasus Arif di sini masuk. Kita basisnya kasus yang kita dampingi,” ujar wartawan Lombok Post itu.

Terkait kasus yang menimpa Fitriani ini, AJI sepenuhnya menyerahkan kepada APH. AJI tentu berharap agar kasus ini bisa diselesaikan secara tuntas dan profesional sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

“Kami percaya kami menyerahkan sepenuhnya kepada APH,” terangnya.

Sementara itu, Fitriani tadi malam menjalani visum yang berlangsung di RS Bhayangkara

AD Wira Bhakti. Sebelumnya, Fitri panggilan akrabnya dipukul oleh inisial Y setelah baru sampai rumahnya bersama suaminya dari Kuripan sekitar pukul 20.20 wita. Ia ditendang dan perutnya diinjak.

Fitri sendiri belum mengetahui motif pelaku yang tiba tiba melakukan kekerasan kepada dirinya dan suaminya, H Awaludin. Termasuk apakah pelaku menyimpan dendam pribadi atau tidak. Seingat Fitri dirinya dan suaminya tidak ada masalah apa apa dengan pelaku sebelummya. Tapi paginya Fitri dan ibu pelaku sempat terjadi cekcok sekitar pukul  09.00 ibu pelaku tiba tiba menghampiri mereka Fitri yang hanya berbatasan rumah satu tembok. Kata ibu pelaku dirinya tidak suka sama Fitri. Ibu pelaku datang menggedor pagar sambil teriak teriak menyuruh Fitri keluar

(Yudi)