Beranda News NTB Abaikan Simbol Adat, Haris-Sani tak Cinta Adat Melayu

Abaikan Simbol Adat, Haris-Sani tak Cinta Adat Melayu

2
0

JAMBI-RADARINVESTIGASI.ID-Al Haris-Sani selalu tampil beda. Perbedaan mencolok itu dipertontonkan ketika mereka menghadiri acara pencabutan nomor urut, di Swissbell Hotel, Kamis kemarin. Tengok saja, kandidat berjargon Jambi Mantap itu satu-satunya pasangan yang tak menyelimuti tubuhnya dengan simbol-simbol adat dan budaya melayu. 25-09-2020.

Sementara Fachrori-Syafril, tampak gagah mengenakan setelan budaya melayu. Begitupula dengan pasangan CE-Ratu, dimana Ratu kelihatan anggun mengenakan tengkuluk, yang merupakan penutup kepala, khas perempuan melayu.

Sedangkan Haris-Sani, justru berjalan tegap penuh bangga menuju ruang acara di lantai tiga itu, dengan mengenakan atasan kemeja kotak-kotak dan bawahan celana berkelir hitam. Tak satupun dari mereka yang mengenakan simbol-simbol adat melayu.

Secara kasat mata, Haris-Sani seperti hendak mengirim pesan terbuka ke publik, bahwa mereka tak cinta adat dan budaya melayu?.

Keduanya memang kerap menonjolkan diri sebagai figur yang antitesa dari dua kandidat lain. Tapi, aksi mereka hari itu, sepertinya sudah kebablasan. Kok dengan bangganya mengenakan kemeja kotak-kotak, tanpa sedikitpun menonjolkan adat dan budaya kedaerahan.

Ada yang menyebut bahwa uniform atau baju kebesaran adat melayu, yang dikenakan Fachrori-Syafril itu, merupakan potret sebuah feodalisme. Saya kira pendapat itu terkesan menjustifikasi. Tuduhan yang terlalu dipaksakan, tuduhan titipan, untuk tidak mengatakan upaya sengaja hendak menjatuhkan nama baik Fachrori-Syafril.

Jika baju dipaksa menjadi sebuah ukuran feodalisme, maka, Haris-Sani, akan anggap publik sebagai kandidat yang tak cinta adat melayu. Tak cinta budaya leluhur dan nenek moyang. Kenapa?

Karena pasangan ini satu-satunya yang tak mengenakan simbol adat melayu, sewaktu datang mencabut nomor urut itu. Maka, jangan buru-buru naik pitam. Lalu selonong boy marah-marah ketika muncul joke: Haris-Sani tak cinta adat melayu.

Kecintaannya terhadap budaya daerah mesti kita pertanyakan. Apa gunanya mereka membangga-banggakan pakaian, yang sebetulnya bukan asli nusantara itu. Kemeja adalah busana yang berasal dari budaya barat.

Dengan menonjolkan budaya kebarat-baratan itu, apakah Haris-Sani ingin merubah paradigma etnis melayu?. Supaya mengenyahkan jauh-jauh adat dan budaya leluhur?. Entahlah, Saya fikir ini langkah salah kaprah.

Konsultan politik Haris-Sani sepertinya bukan orang Jambi, yang tak paham bagaimana seluk beluk adat budaya melayu. Mereka abai dengan adat leluhur dan justru bangga dengan budaya barat.

Jangan-jangan mereka sudah lupa dengan sebuah pepatah, di mana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Hormatilah adat istiadat di mana tempat kita berpijak. Apalagi jika kita seorang pemimpin, yang lagak dan perilakunya mesti digugu dan ditiru.

Pemimpin itu kudu menjadi suri tauladan. Harus menjadi contoh bagi rakyatnya. Kalaulah pemimpinnya sudah tak cinta adat dan budaya leluhur, bagaimana mau memaksa rakyatnya untuk taat dan cinta leluhurnya?

Pemimpin yang tak memberi suri tauladan baik, sepertinya tak layak mendapat tempat di hati rakyat. Betul? Ujarnya salah satu peneliti sosial politik, tinggal di Kota Jambi. (Debi putra)