29.7 C
Banyuwangi
Rabu, Agustus 17, 2022
- Advertisement -spot_imgspot_img

Aksi Eksekusi Lahan Oleh PN Sambas Menuai Protes Keras dari Masyarakat Penggarap

Radar Investigasi, Sambas – Proses eksekusi lahan pertanian dan perkebunan seluas 178.000 meter persegi atau seluas 17,8 Hektare yang dilakukan oleh Pengadilan Negeri Sambas menuai protes keras dari sejumlah para petani pekebun yang sudah sejak lama mengusahakan dan mengelola lahan yang akan di eksekusi, Selasa 26 Juli 2022.

Lahan yang terletak di dalam KAPET (Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu) atau Kawasan Industri Semparuk (KIS) Jalan Pelabuhan Desa Sempauk Kecamatan Semparuk Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat ini sudah digarap oleh para petani pekebun sejak tahun 2004 atas nama Kelompok Tani Nusa Indah yang diketuai oleh Bapak Iskandar Zulkarnain. Saat ini sudah diklaim milik PT Sumatra Bulkers.

Saat proses eksekusi lahan berlangsung hampir terjadi kericuhan antara petani pekebun dengan pemohon eksekusi. Hal ini lebih disebabkan oleh karena selama ini mereka, para penggarab lahan yang diperebutkan ini menggantungkan mata pencaharian mereka sepenuhnya sebagai petani pekebun untuk kelangsungan hidup. Bahkan ketua kelompok tani mereka sampai rela tinggal dilokasi lahan mereka demi memperkuat dan mempertahankan eksistensi mereka sebagai petani pekebun yang menggarap lahan agar tidak diklaim oleh pihak-pihak yang akan mengambil keuntungan sesaat.

Terkait eksekusi lahan pertanian yang dilakukan oleh PN Sambas, Andi selaku kuasa hukum dari masyarakat, menilai bahwa persidangan tersebut adalah peradilan sesat.

“Jadi awal persidangan ini adalah peradilan sesat, hingga hari ini banyak masyarakat yang digugat. Seperti apa yang disampaikan dan dibacakan sampai saat ini adalah putusan sesat.”katanya disela-sela kerumunan dari berbagai awak media cetak dan online setempat.

Ia menambahkan bahwa, “lebih dari separuh itu tidak mengakui adanya lahan di atas tanah ini, dan menjadi dasar untuk mengklaim tanah ini adalah fotocopy, surat dari tahun 1989 yang tidak jelas batas-batasnya. Jadi kami meminta kepada satgas mafia tanah untuk mengusut ini.” pungkasnya

Berdasarkan Surat Penetapan Eksekusi PN Sambas Nomor: 4/Pdt.Eks/2021/PN.Sbs, Juncto Nomor: 10/Pdt.G/2018/PN.Sbs, Juncto Nomor: 89/Pdt/2019/PT.Ptk, Juncto Nomor: 3188 K/Pdt/2020, dan Juncto Nomor: 406 PK/Pdt/2022.

Ditemui ditempat yang sama Penerima Kuasa PT Sumatra Bulkers, Poltak Simanjuntak mengungkapkan bahwa pembelian lahan sudah dilakukan oleh pihak
PT Sumatra Bulkers dengan pihak pemilik sah lahan tersebut melalui Pariyanto yang sudah mendapatkan kuasa untuk melakukan penjualan lahan tersebut.

“Jadi lahan sudah dibeli oleh kami PT Sumatra Bulkers. Saat kita mau menguasai ada beberapa orang penggarap yang melakukan penolakan. Maka pihak kita mengajukan gugatan. Perkara ini sudah sampai PK. Kemudian Iskandar dan kawan-kawan penggarab juga mengajukan gugatan nomor 32. Gugatannya itu dikatakan tidak dapat diterima,” ungkap Poltak

Poltak Simanjuntak menegaskan bahwa PT Sumatra Bulkers membeli lahan ini dengan ahli waris pemilik asli sejak tahun 1989 dan Pariyanto dipercayakan oleh pemilik lahan untuk mencari calon pembeli. Sampai bertemulah Pariyanto dengan pihak PT Sumatra Bulkers dan terjadilah proses penjualan lahan ini hingga selesai.

“Jadi begini, pemilik tanah itukan meminta Pariyanto untuk mencarikan pembeli. Dia bukan pemilik lahan ini, Pariyanto diberi kuasa menjual. Jadi dia pernah mengajukan ke BPN atas nama PT Sumatra Bulkers, dia disuruh urus sampai bersih, kami hanya tau semua clear and clean,” ungkap Poltak Simanjuntak.

Sedang dipihak Iskandar Zulkarnain yang sudah membangun rumah tinggal bersama keluarganya diatas lahan yang disengketakan ini mengaku belum pernah melihat langsung surat kepemilikan tanah tersebut atas nama PT Sumatra Bulkers.

“Kami minta PT Sumatra Bulkers tolong tunjukkan bukti kepemilikan mereka. Kemudian atas dasar apa PT Sumatra Bulkers membeli tanah objek sengketa ini dan berapa luasnya. Tolong dijawab. Apakah PT Sumatra Bulkers sudah mendapat izin dari dinas terkait,” jelasnya

Dirinya bersama penggarap lain juga sudah berupaya mencari keadilan.Salah satunya dengan menggugat PT Sumatra Bulkers di pengadilan, akan tetapi gugatan yang dilakukan selalu mengalami kekalahan. Ia merasa bahwa putusan pengadilan tersebut kurang adil. Kami ingin kejelasan dari hasil keputusan PN Sambas ini mengapa dan atas dasar apa hingga tega melakukan eksekusi lahan pertanian yang sudah kami garab sejak bertahun-tahun lalu. Kami selaku penggarab lahan pertanian disini tidak ada niat menghalang-menghalangi, apa lagi melakukan perlawanan kepada petugas yang melakukan eksekusi. kami sepenuhnya sadar, patuh dan taat kepada hukum yang berlaku di negeri ini. Tapi mohon kiranya pertimbangkan lagi keputusan eksekusi ini agar tidak menghilangkan mata pencaharian kami selaku petani.Kami dan para penggarap lainnya hanyalah masyarakat kecil biasa dan berharap mendapat sedikit rasa keadilan yang tidak mencidrai rasa kemanusiaan dan rasa keadilan itu sendri. Ungkap nya panjang lebar dan mengakhiri pembicaraan. (RadimanLah)

- Advertisement -spot_imgspot_img
Kriminal
- Advertisement -spot_img
Advertorial
- Advertisement -spot_img