27.8 C
Banyuwangi
Rabu, Agustus 17, 2022
- Advertisement -spot_imgspot_img

Nelayan Tradisional Semparuk Mengalami Masa Paceklik

Sambas.Radar Invetigasi.id-Jumlah nelayan tangkap tradisional di Desa Semparuk Kecamatan Semparuk, Kabupaten Sambas mengalami penurunan dan sebagian di antara nelayan tersebut mau tidak mau beralih pekerjaan sebagai petani pekebun untuk menggantungkan kelangsungan hidup.

Berdasarkan pantauan awak media dilapangan selama dua tahun  terakhir ini banyak dari Nelayan tradisional di Semparuk yang beralih pekerjaan menjadi petani, bahkan ada yang nekat merantau untuk bekerja keluar negeri sebagai kuli bangunan dan KHL di perkebunan Sawit Malaysia.

Menurut Amus (50) selaku Ketua Kelompok Nelayan Langit Biru Semparuk bahwa selain itu ada beberapa faktor yang penyebab nelayan tradisional Semparuk beralih pekerjaan dan yang tetap bertahan dengan pekerjaan sebagai Nelayan tradisional namun jarang turun beraktivitas menangkap ikan karena faktor pertama adalah adanya pencemaran kawasan perairan atau lautan dan sungai yang menurunkan kualitas air laut serta sungai  dan juga kuantitas ikan.”

Amus yang tinggal di Jalan Nelayan Semparuk Kuala menuturkan, faktor selanjutnya ada oknum Nelayan Pukat Harimau / Pukat Kikis yang tidak mentaati kesepakatan antar sesama Nelayan dalam hal wilayah perairan mana saja yang boleh dimasuki oleh mereka yang beroperasi menggunakan Pukat Harimau / Pukat Kikis.”

“Sekedar info kekuatan Nelayan tradisional Semparuk saat menangkap ikan hanya berada di wilayah sepanjang DAS Sungai Sambas Besar hingga kearah Muara Pemangkat, sudah beberapa kali memergoki oknum Nelayan Pukat Harimau / Pukat Kikis yang beroperasi hingga Muara Pemangkat. Harapannya semoga pihak-pihak terkait yang memiliki wewenang hendaknya dapat memantau aktivitas Oknum Nelayan Pukat Harimau / Pukat Kikis yang beroperasi tidak sesuai kesepakatan yang berlaku,” ungkapnya.

“Faktor lainnya adalah semakin tingginya biaya produksi melaut yang harus ditanggung oleh nelayan tradisional sehingga pengeluaran dan pemasukan tidak sesuai harapan,” tambahnya.

Ditambah alat-alat tangkap seperti pukat,Jala, Bubu dan Perahu motor dalam kondisi banyak yang rusak. Hal ini akibat dari ketidak mampuan para nelayan untuk memperbaikinya. Dari kondisi yang diuraikan diatasi Amus berharap ada program bantuan dari pemerintah, dalam hal ini Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sambas.

Faktor terakhir adalah kondisi cuaca yang dalam kurun waktu lima tahun terakhir ini berubah agak ekstrim akibat perubahan iklim sehingga sangat berdampak pada produksi nelayan tradisional.

Untuk itu, Amus dan beberapa anggota Rukun Nelayannya berharap ada anggota Dewan Perwakilan Rakyat sebagai perpanjangan lidah rakyat untuk dapat menampung aspirasi mereka, pungkasnya mengakhiri pembicaraan.

“Adapun harapan kami semoga Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) bisa bersinergi dengan beberapa pihak terkait seperti Dinas Sosial untuk memberikan bantuan sosial bagi nelayan yang mengalami masa paceklik,” tutupnya. (radiman)

- Advertisement -spot_imgspot_img
Kriminal
- Advertisement -spot_img
Advertorial
- Advertisement -spot_img