30.4 C
Banyuwangi
Jumat, Mei 20, 2022
- Advertisement -spot_imgspot_img

[Liputan Khusus Edisi I ] Mengupas Tuntas “Mafia Tanah” Di Desa Gitik.

Banyuwangi – Radar Investigasi| Seorang warga dusun Sendangrejo, Desa kebundalem Kecamatan Bangorejo, Kecamatan Bangorejo, Kabupaten Banyuwangi, Bintara Ulin Nuha, Mengaku memiliki tanahnya diduga di serobot para “Mafia Tanah” Kelas Elit,  Salah satunya Oknum Kepala desa Gitik Dan Warga Negara asing.

Kejadian Itu, Bintara Ulin Nuha , Menjelaskan, Akhir Tahun 1994 Silam dirinya membeli Sebidang tanah bersama Nyaman (red. Anak buah kaplingan yang dilapangan) bayar DPnya diantar oleh Subroto. (red. kepala desa saat itu) yang sebagai perantara atau makelarnya kerumah penjual tanah tersebut yaitu Nawawi (Alm) Bpk Afandi (Alm) Disaksikan Siti Nur Asiyah (red. Istri Alm Afandi) di Dusun Gurit Desa pengantigan Rogojampi Banyuwangi

Kemudian Hari, Kata Ulin, Dirinya melakukkan pembayaran pelunasan di dampingi Nyaman diantar Subroto, uang pelunasan tersebut  diserahkan pada  H. Nawawi (Alm) dan  H. Afandi (Alm) yang disaksikan Siti Nur Asiyah, Sebagai bukti pembayaran mereka tuangkan dalam “KWITANSI BERMATERAI oleh Subroto yang saat itu menjadi sebagai KEPALA DESA GITIK yang aktif menyarankan pada dia.

“Dik Ulin, mana kwitansinya aku tandatangani dan stempel desa biar lebih kuat keatanmaninya kerens yang mengetahui dan menyaksikan adalah KEPALA DESA”Ucap Bintara Ulin Nuha menirukan ucapan kades.

Hal ini disaksikan oleh yang hadir karena ucapan Subroto saat itu dirinya menganggap benar maka Dia serahkan bukti kwitansi pembayaran tanah tersebut kepada beliau untuk distempel desa keesokan harinya, Akan tetapi sampai sekarang (+-25 tahun telah berlalu kwitansi tersebut tidak pernah diberikan kembali kepada Dia dan masih disimpan Subroto, entah dimana.

Ada Kejanggalan Dalam Dokumen Jual-Beli Dan SHM.

Singkat Cerita,  tiba-tiba tanah tersebut sudah di miliki oleh sejumlah warga dengan mirisnya sudah berstatus Hak Milik. menurutnya diriya juga tidak pernah untuk menjual kepada siapapun, sedangkan penjual melalui ahli waris pun merasa heran dan Tidak pernah menjual maupun memberikan cap jempol untuk memperlengkapi Pengurusan jual beli bahkan Sertifikat Hak Milik (SHM), Lanjutnya, Saat Dia menyiapkan semua persyaratan jual beli, Dia dapat info dari kepala Dusun Gitik, yang minyampaikan ke Dia kalau tanah tersebut sudah ada yang memiliki, bahkan sudah bersertifikat, Dia kaget Dia tanya ke ahli waris apa dulu setelah Dia beli apa dijual lagi sama almarhum kakek & Abah (ayah)nya… Ahliwaris dan saksi (Ibunya), menyampaikan kalau kakek dan abahnya TIDAK PERNAH MENJUAL tanah tersebut kepada orang lain selain kepada Dia. Dirinya Tetap PERCAYA DAN YAKIN pada keterangan Ahli waris dan saksi.

“Saya merasa ada kejanggalan dan ketidak beresan tentang tanah yang sudah Dia beli tersebut”herannya.

Sejak tahun 1994. Lanjut dia lagi, Bersama Ahli waris Moh Rohman, kami bertiga ke Balai Desa Gitik untuk kroscek dan melihat kerawangan tanah tersebut. mereka ditemui Sekretaris Desa Gitik  Heri,  sangat disayangkan, Hamzah Kades Gitik tidak berada ditempat pada saat itu,

“dengan berkomunikasi lewat Hp  Hamzah memberi izin kami bertiga dibukakan kerawangan dan peta bloknya tanah tersebut.”ucapnya

Akhirnya dihadapan Heri dan Mas’ud (staf Desa) mereka kaget saat melihat peta Blok, karena tanah tersebut sudah terbagi menjadi 5 bagian yaitu

Atas Nama (insial) Nomor
AM/ Kepala Desa 0085
BS 0086
S 0087
EM 0088
S 0089

“Kami heran kok bisa begitu dari mana mereka dapat?”heranya

Esok hari dengan difasilitasi  Heri, Dia dan istri menemui kades dirumahnya, dalam pertemuan tersebut Pak Kades “BERJANJI” me-mediasi pertemuan antara Dia, ahliwaris dan beberapa nama diatas untuk klarifikasi tentang tanah tersebut.

amun sangat disedihkan, Sudah seminggu Janji Kades tidak terealisasi, kemudian Dia dan istrinya diantar Syamsul menemui kembali Kades Hamzah dan berjanji kembali kepada kami, beliau mau memediasi

“janji itu BOHONG.”pungkasnya

Sementara, Kepala Desa Gitik, Hamzah, Mengatakan, bahwa Ulin tidak pernah memiliki atau  membeli lahan di desa Gitik, dan dia menyampaikan peryataan ulin memiliki sebidang tanah yang berada di Desa gitik tersebut tersebut tidak benar.

“tidak Punya (lahan) mas”Terang Hamzah.

Selain itu, kades menyangkal dirinya untuk memberikan janji untuk memberikan fasilitas untuk mediasi mempertemukan antara kedua belah pihak, menurut dia, memberikan fasilitas mediasi itu bukan kewenangan dia.

“tidak Pernah Mas (Red. Janji), Bukan Kewenangan (red. Memberikan Mediasi) Saya Mas”kata kades

Wartawan Radar Investigasi terus mengupas dan mengawal terkait isu ini yang berkemungkinan besar berindikasi ada oknum permainan “MAFIA TANAH”.

Perlu Di ketahui, di Langsir Dari republika.co.id, Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Polri Komjen Polisi Agus Andrianto menegaskan komitmen untuk memberantas mafia tanah di seluruh Indonesia dengan membentuk tim terpadu bersama Badan Pertanahan Nasional (BPN). Komitmen ini ditegaskan Kabareskrim saat bersilaturahim dengan Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR)/Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN), Sofyan A Djalil, di Kantor Kementerian ATR/BPN, Jakarta, Senin (1/3).

“Tim Pemberantasan Mafia Tanah ini bertugas menerima laporan/pengaduan/hasil penyelidikan terhadap praktik mafia tanah baik yang diterima oleh Kementerian maupun Polri,” tutur Agus Andrianto dalam keterangan tertulisnya.

 

 

 

 

 

- Advertisement -spot_imgspot_img
Kriminal
- Advertisement -spot_img
Advertorial
- Advertisement -spot_img